Fenomena Ekuinoks

Pada hari Sabtu tanggal 23 September 2017 akan terjadi fenomena ekuinoks di Indonesia.Ekuinoks adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa yang terjadi dua kali dalam setahun. Pada saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif hampir sama. Setiap tahun fenomena ekuinoks ini terjadi kisaran tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.
Salah satu dampak yang kerap muncul akibat fenomena ekuinoks adalah terjadinya peningkatan suhu udara.Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34,0-37,5•C(masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan klimatologi 30 tahun antara 34,0-37,5•C).Berdasarkan pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiin Geofisika Bandung tercatat pada bulan September 2017 ini tercatat paling tinggi 33,4•C. Fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.
Seiring dengan adanya penambahan tingkat kelembapan pada lapisan atmosfer yang berkontribusi pada pembentukan awan-awan hujan sehingga pada kondisi suhu udara di wilayah Bandung pada esok tanggal 23 September diprakirakan berkisar antara 18,6-30,1•C, dengan wilayah yang relatif panas terjadi di area yang kurang vegetasinya yang cenderung berada di pusat kota.
Menanggapi fenomena ini, masyarakat dihimbau untuk tetap beraktivitas seperti biasa, menjaga daya tahan tubuh dengan banyak mengkonsumsi buah buahan.

Skala Intensitas Gempabumi BMKG

 Skala Intensitas Gempabumi BMKG

SIG adalah Skala Intensitas Gempabumi. Skala ini menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya gempabumi. Skala Intensitas Gempabumi (SIG-BMKG) digagas dan disusun dengan mengakomodir keterangan dampak gempabumi berdasarkan tipikal budaya atau bangunan di Indonesia. Skala ini disusun lebih sederhana dengan hanya memiliki lima tingkatan yaitu I-V.
SIG-BMKG diharapkan bermanfaat untuk digunakan dalam penyampaian informasi terkait mitigasi gempabumi dan atau respon cepat pada kejadian gempabumi merusak. Skala ini dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memahami tingkatan dampak yang terjadi akibat gempabumi dengan lebih baik dan akurat.

Saran & Arahan Untuk PEMDA

Versi Bahasa Indonesia

 

Pusat Peringatan Tsunami Nasional di BMKG Jakarta
TINGKAT
SARAN DARI BMKG
KEPADA PEMDA
AWAS
(Tinggi Gelombang Lebih Besar dari 3m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “AWAS” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi menyeluruh.
SIAGA
(Tinggi Gelombang antara 0.5m dan 3m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “SIAGA” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi.
WASPADA
(Tinggi Gelombang Lebih Kecil dari 0.5m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “WASPADA” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai.
Info
Gempa
Gempa di darat, gempa dengan magnitudo kecil atau gempa dalam – tidak ada ancaman tsunami.

 

Tabel Arahan dan Saran untuk PEMDA

 

English Version

 

National Tsunami Warning Center at BMKG Jakarta
WARNING LEVEL
ADVICE FROM BMKG
TO LOCAL GOVERNMENT
MAJOR WARNING
(Wave Height Greater than 3m)
Province/District/City governments that are at “Major Warning” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities for full evacuation.
WARNING
(Wave Height Between 0.5m and 3m)
Province/District/City governments that are at “Warning” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities for evacuation.
ADVISORY
(Wave Height Less than 0.5m)
Province/District/City governments that are at “Advisory” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities to move away from the beach and river banks.
Earthquake
Information
Earthquake on land, earthquake with small magnitude or deep earthquake – no tsunami threat.

 

Table Referrals and Recommendations for local governments

Atmosfer dan Aktifitas Cuaca

1. Atmosfer

Atmosfer merupakan lapisan gas atau campuran gas yang menyelimuti bumi dengan ketebalan sekitar 1000 km dan terikat pada bumi oleh gaya gravitasi. Di antara campuran gas tersebut terdapat uap air, sedang campuran gas tanpa uap air dinamakan udara kering1.
Keberadaan uap air memegang peranan penting dalam proses fisis di atmosfer karena1 :
– Sumber dari semua bentuk kondensasi (pengembunan) dan presipitasi (curahan).
– Mempengaruhi suhu karena mampu menyerap radiasi.
– Mengandung panas laten.
– Mempengaruhi evaporasi (penguapan) dan evapotranspirasi.
– Dapat berubah fasa menjadi cair atau padat. Hal yang berbeda dengan gas lain di atmosfer.
– Mempengaruhi kestabilan atmosfer melalui pemanasan dan pendinginan adiabatik.

Berdasarkan variasi suhu terhadap ketinggian, maka struktur vertikal atmosfer dapat dibedakan menjadi empat lapisan yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer dan termosfer2.

Aktifitas cuaca terjadi pada lapisan troposfer3. Hal ini terjadi karena troposfer mengandung kira-kira 80 % dari total massa atmosfer dan memuat seluruh uap air dan aerosol1. Pada lapisan ini suhu maksimum terjadi didekat permukaan bumi dan akan menurun terhadap ketinggian dengan laju penurunan sebesar 6,5 0C tiap kilometer4. Puncak dari troposfer di sebut tropopause yang ditandai adanya inversi suhu, yaitu keadaan di mana suhu cenderung tetap dan atau naik terhadap ketinggian.
Di atas lapisan tropopause terdapat lapisan stratosfer di mana suhu udara justru naik terhadap ketinggian. Fenomena cuaca pada lapisan ini sangat kecil, adakalanya hanya berupa puncak awan thunderstorm3. Pada lapisan ini terdapat ozon yang berfungsi menyerap radiasi ultraviolet dari matahari.

2. Stabilitas atmosfer
Stabilitas atmosfer memungkinkan untuk mengetahui kecenderungan gerakan vertikal dari suatu massa udara di atmosfer. Perbedaan-perbedaan yang kecil dalam gerakan vertikal tersebut penting untuk menerangkan atau meramalkan pembentukan awan-awan konvektif, hujan ataupun wilayah daerah tekanan rendah5. Udara yang tidak stabil memungkinkan terbentuknya awan khususnya awan yang mempunyai ukuran vertikal yang mencolok dan yang biasanya menimbulkan cuaca buruk. Sebaliknya dengan cuaca cerah, tanpa awan adalah sebagai akibat udara yang stabil1.
Faktor utama stabilitas atmosfer adalah hubungan suhu dengan ketinggian. Tingkat di mana suhu bervariasi terhadap ketinggian disebut lajusurut itu. Lajusurut mempunyai pengaruh yang signifikan pada gerak vertikal udara. Mekanisme dimana udara dipindahkan secara vertikal terikat pada konsep lajusurut adiabatik6.
Tingkat stabilitas paket di atmosfer dibedakan menjadi
1. Kondisi Netral, dimana lajusurut aktual dan lajusurut adiabatik kering sama, sehingga suatu parsel udara yang berpindah (baik ke atas maupun ke bawah) akan mempunyai suhu yang sama dengan udara sekitarnya, densitas menjadi sama, dan akan berada dalam keseimbangan.

2. Kondisi Tidak Stabil, dimana lajusurut aktual lebih besar dibanding lajusurut adiabatik yang kering. Ketika parsel ini naik, suhunya lebih besar dari udara sekitarnya, densitasnya menjadi lebih kecil dan akan tetap begerak naik. Ketika parsel bergerak naik, perbedaan suhu bertambah dan mempercepat naiknya parsel udara.

3. Kondisi Stabil, dimana lajusurut aktual kurang dari lajusurut adiabatik kering. Ketika kenaikan parsel, suhunya kurang dari udara sekitar oleh karena itu densitasnya lebih besar dan parsel akan turun langsung di mana suhunya sama dengan udara sekitarnya.
Fenomena yang mudah mengenali stabilitas atmosfer adalah melihat pertumbuhan awan konvektif seperti Cumulonibus (CB). Pembentukan awan ini di awali dari kondisi atmosfer yang tidak stabil akibat pemanasan dari bawah oleh radiasi matahari yang menaikkan tempetatur tanah. Udara yang tidak stabil menimbulkan gangguan yang selanjutnya menyebabkan proses konvektif2. Cuaca buruk akibat awan ini antara lain adalah terjadinya badai guntur dan kilat3.

Acuan :
1.Prawirowardoyo, S., 1996, Meteorologi, Penerbit ITB, Bandung.
2.Tjasyono, HK, B., 2003, Geosains, Penerbit ITB, Bandung
3.Hariadi, 2005, Weather Aviation and Shipping Course, Badan Meteorologi dan
Geofisika, Jakarta.
4.Neiburger, M., Edinger, J.G., Bonner, W.D., 1995, Memahami Lingkungan Atmosfer Kita, Edisi kedua, Penerbit ITB, Bandung.
5.Pawitan, H., 1989, Termodinamika Atmosfer, Pusat Antar Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor Fritz, 2003).
6.Fritz, B.K., 2003, Measurement and Analysis of Atmospheric Stability in Two Texas Regions, 2003 ASAE/NAAA Technical Session, 37th Annual National Agricultural Aviation Association Convention, Reno, NV.

Definisi Istilah Pada Prakiraan Hujan Bulanan

1. SIFAT HUJAN
Yang dimaksudkan dengan Sifat Hujan ialah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan / periode dengan nilai rata-ratanya atau normalnya dari bulan / periode tersebut di suatu tempat tertentu.

Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kriteria yaitu :

Atas Normal (a) jika nilai perbandingan lebih besar dari 115 %.
Normal (n) jika nilai perbandingan antara 85 – 115 %.
Bawah Normal (b) jika nilai perbandingan kurang dari 85 %.

2. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Adalah rata-rata hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun. Misalnya Rata-rata Curah hujan bulanan Agustus periode 1997-2006

3. Normal Curah Hujan Bulanan
Adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama 30 tahun.
Contoh: untuk bulan AGUSTUS, merupakan rata-rata dari AGUSTUS 1981 s.d AGUSTUS 2010.

4. Standard Normal Curah Hujan Bulanan
Adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun tertentu.

1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930
1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960
1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990 dan seterusnya.

5. Cuaca Ekstrim, adalah cuaca yang terjadi bila :

– Suhu udara < 15 0C, atau > 35 0C
– Curah hujan > 100 mm/hari
– Kelembaban udara < 40%
– Kecepatan angin > 45 km/jam (> 25 knots)
Hujan sangat lebat >20 >100

Page 1 of 21...Last »