Fenomena Ekuinoks

Pada hari Sabtu tanggal 23 September 2017 akan terjadi fenomena ekuinoks di Indonesia.Ekuinoks adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa yang terjadi dua kali dalam setahun. Pada saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif hampir sama. Setiap tahun fenomena ekuinoks ini terjadi kisaran tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.
Salah satu dampak yang kerap muncul akibat fenomena ekuinoks adalah terjadinya peningkatan suhu udara.Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34,0-37,5•C(masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan klimatologi 30 tahun antara 34,0-37,5•C).Berdasarkan pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiin Geofisika Bandung tercatat pada bulan September 2017 ini tercatat paling tinggi 33,4•C. Fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.
Seiring dengan adanya penambahan tingkat kelembapan pada lapisan atmosfer yang berkontribusi pada pembentukan awan-awan hujan sehingga pada kondisi suhu udara di wilayah Bandung pada esok tanggal 23 September diprakirakan berkisar antara 18,6-30,1•C, dengan wilayah yang relatif panas terjadi di area yang kurang vegetasinya yang cenderung berada di pusat kota.
Menanggapi fenomena ini, masyarakat dihimbau untuk tetap beraktivitas seperti biasa, menjaga daya tahan tubuh dengan banyak mengkonsumsi buah buahan.

Skala Intensitas Gempabumi BMKG

 Skala Intensitas Gempabumi BMKG

SIG adalah Skala Intensitas Gempabumi. Skala ini menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya gempabumi. Skala Intensitas Gempabumi (SIG-BMKG) digagas dan disusun dengan mengakomodir keterangan dampak gempabumi berdasarkan tipikal budaya atau bangunan di Indonesia. Skala ini disusun lebih sederhana dengan hanya memiliki lima tingkatan yaitu I-V.
SIG-BMKG diharapkan bermanfaat untuk digunakan dalam penyampaian informasi terkait mitigasi gempabumi dan atau respon cepat pada kejadian gempabumi merusak. Skala ini dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memahami tingkatan dampak yang terjadi akibat gempabumi dengan lebih baik dan akurat.

Saran & Arahan Untuk PEMDA

Versi Bahasa Indonesia

 

Pusat Peringatan Tsunami Nasional di BMKG Jakarta
TINGKAT
SARAN DARI BMKG
KEPADA PEMDA
AWAS
(Tinggi Gelombang Lebih Besar dari 3m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “AWAS” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi menyeluruh.
SIAGA
(Tinggi Gelombang antara 0.5m dan 3m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “SIAGA” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi.
WASPADA
(Tinggi Gelombang Lebih Kecil dari 0.5m)
Pemerintah Propinsi/Kab/Kota yang berada pada tingkat “WASPADA” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai.
Info
Gempa
Gempa di darat, gempa dengan magnitudo kecil atau gempa dalam – tidak ada ancaman tsunami.

 

Tabel Arahan dan Saran untuk PEMDA

 

English Version

 

National Tsunami Warning Center at BMKG Jakarta
WARNING LEVEL
ADVICE FROM BMKG
TO LOCAL GOVERNMENT
MAJOR WARNING
(Wave Height Greater than 3m)
Province/District/City governments that are at “Major Warning” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities for full evacuation.
WARNING
(Wave Height Between 0.5m and 3m)
Province/District/City governments that are at “Warning” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities for evacuation.
ADVISORY
(Wave Height Less than 0.5m)
Province/District/City governments that are at “Advisory” level are expected to pay attention to this warning and immediately guide their communities to move away from the beach and river banks.
Earthquake
Information
Earthquake on land, earthquake with small magnitude or deep earthquake – no tsunami threat.

 

Table Referrals and Recommendations for local governments

Atmosfer dan Aktifitas Cuaca

1. Atmosfer

Atmosfer merupakan lapisan gas atau campuran gas yang menyelimuti bumi dengan ketebalan sekitar 1000 km dan terikat pada bumi oleh gaya gravitasi. Di antara campuran gas tersebut terdapat uap air, sedang campuran gas tanpa uap air dinamakan udara kering1.
Keberadaan uap air memegang peranan penting dalam proses fisis di atmosfer karena1 :
– Sumber dari semua bentuk kondensasi (pengembunan) dan presipitasi (curahan).
– Mempengaruhi suhu karena mampu menyerap radiasi.
– Mengandung panas laten.
– Mempengaruhi evaporasi (penguapan) dan evapotranspirasi.
– Dapat berubah fasa menjadi cair atau padat. Hal yang berbeda dengan gas lain di atmosfer.
– Mempengaruhi kestabilan atmosfer melalui pemanasan dan pendinginan adiabatik.

Berdasarkan variasi suhu terhadap ketinggian, maka struktur vertikal atmosfer dapat dibedakan menjadi empat lapisan yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer dan termosfer2.

Aktifitas cuaca terjadi pada lapisan troposfer3. Hal ini terjadi karena troposfer mengandung kira-kira 80 % dari total massa atmosfer dan memuat seluruh uap air dan aerosol1. Pada lapisan ini suhu maksimum terjadi didekat permukaan bumi dan akan menurun terhadap ketinggian dengan laju penurunan sebesar 6,5 0C tiap kilometer4. Puncak dari troposfer di sebut tropopause yang ditandai adanya inversi suhu, yaitu keadaan di mana suhu cenderung tetap dan atau naik terhadap ketinggian.
Di atas lapisan tropopause terdapat lapisan stratosfer di mana suhu udara justru naik terhadap ketinggian. Fenomena cuaca pada lapisan ini sangat kecil, adakalanya hanya berupa puncak awan thunderstorm3. Pada lapisan ini terdapat ozon yang berfungsi menyerap radiasi ultraviolet dari matahari.

2. Stabilitas atmosfer
Stabilitas atmosfer memungkinkan untuk mengetahui kecenderungan gerakan vertikal dari suatu massa udara di atmosfer. Perbedaan-perbedaan yang kecil dalam gerakan vertikal tersebut penting untuk menerangkan atau meramalkan pembentukan awan-awan konvektif, hujan ataupun wilayah daerah tekanan rendah5. Udara yang tidak stabil memungkinkan terbentuknya awan khususnya awan yang mempunyai ukuran vertikal yang mencolok dan yang biasanya menimbulkan cuaca buruk. Sebaliknya dengan cuaca cerah, tanpa awan adalah sebagai akibat udara yang stabil1.
Faktor utama stabilitas atmosfer adalah hubungan suhu dengan ketinggian. Tingkat di mana suhu bervariasi terhadap ketinggian disebut lajusurut itu. Lajusurut mempunyai pengaruh yang signifikan pada gerak vertikal udara. Mekanisme dimana udara dipindahkan secara vertikal terikat pada konsep lajusurut adiabatik6.
Tingkat stabilitas paket di atmosfer dibedakan menjadi
1. Kondisi Netral, dimana lajusurut aktual dan lajusurut adiabatik kering sama, sehingga suatu parsel udara yang berpindah (baik ke atas maupun ke bawah) akan mempunyai suhu yang sama dengan udara sekitarnya, densitas menjadi sama, dan akan berada dalam keseimbangan.

2. Kondisi Tidak Stabil, dimana lajusurut aktual lebih besar dibanding lajusurut adiabatik yang kering. Ketika parsel ini naik, suhunya lebih besar dari udara sekitarnya, densitasnya menjadi lebih kecil dan akan tetap begerak naik. Ketika parsel bergerak naik, perbedaan suhu bertambah dan mempercepat naiknya parsel udara.

3. Kondisi Stabil, dimana lajusurut aktual kurang dari lajusurut adiabatik kering. Ketika kenaikan parsel, suhunya kurang dari udara sekitar oleh karena itu densitasnya lebih besar dan parsel akan turun langsung di mana suhunya sama dengan udara sekitarnya.
Fenomena yang mudah mengenali stabilitas atmosfer adalah melihat pertumbuhan awan konvektif seperti Cumulonibus (CB). Pembentukan awan ini di awali dari kondisi atmosfer yang tidak stabil akibat pemanasan dari bawah oleh radiasi matahari yang menaikkan tempetatur tanah. Udara yang tidak stabil menimbulkan gangguan yang selanjutnya menyebabkan proses konvektif2. Cuaca buruk akibat awan ini antara lain adalah terjadinya badai guntur dan kilat3.

Acuan :
1.Prawirowardoyo, S., 1996, Meteorologi, Penerbit ITB, Bandung.
2.Tjasyono, HK, B., 2003, Geosains, Penerbit ITB, Bandung
3.Hariadi, 2005, Weather Aviation and Shipping Course, Badan Meteorologi dan
Geofisika, Jakarta.
4.Neiburger, M., Edinger, J.G., Bonner, W.D., 1995, Memahami Lingkungan Atmosfer Kita, Edisi kedua, Penerbit ITB, Bandung.
5.Pawitan, H., 1989, Termodinamika Atmosfer, Pusat Antar Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor Fritz, 2003).
6.Fritz, B.K., 2003, Measurement and Analysis of Atmospheric Stability in Two Texas Regions, 2003 ASAE/NAAA Technical Session, 37th Annual National Agricultural Aviation Association Convention, Reno, NV.

Definisi Istilah Pada Prakiraan Hujan Bulanan

1. SIFAT HUJAN
Yang dimaksudkan dengan Sifat Hujan ialah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan / periode dengan nilai rata-ratanya atau normalnya dari bulan / periode tersebut di suatu tempat tertentu.

Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kriteria yaitu :

Atas Normal (a) jika nilai perbandingan lebih besar dari 115 %.
Normal (n) jika nilai perbandingan antara 85 – 115 %.
Bawah Normal (b) jika nilai perbandingan kurang dari 85 %.

2. Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Adalah rata-rata hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun. Misalnya Rata-rata Curah hujan bulanan Agustus periode 1997-2006

3. Normal Curah Hujan Bulanan
Adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama 30 tahun.
Contoh: untuk bulan AGUSTUS, merupakan rata-rata dari AGUSTUS 1981 s.d AGUSTUS 2010.

4. Standard Normal Curah Hujan Bulanan
Adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun tertentu.

1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930
1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960
1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990 dan seterusnya.

5. Cuaca Ekstrim, adalah cuaca yang terjadi bila :

– Suhu udara < 15 0C, atau > 35 0C
– Curah hujan > 100 mm/hari
– Kelembaban udara < 40%
– Kecepatan angin > 45 km/jam (> 25 knots)
Hujan sangat lebat >20 >100

Apa Itu Tsunami ?

Tsunami berasal dari kata :

Tsu = Pelabuhan
 
Nami = Gelombang

Tsunami adalah gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan impulsif pada laut. Gangguan impulsif tersebut terjadi akibat adanya perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba dalam arah vertikal (Pond and Pickard, 1983) atau dalam arah horizontal (Tanioka and Satake, 1995). Perubahan tersebut disebabkan oleh tiga sumber utama, yaitu gempa tektonik, letusan gunung api, atau longsoran yang terjadi di dasar laut (Ward, 1982). Dari ketiga sumber tersebut, di Indonesia gempa merupakan penyebab utama (Puspito dan Triyoso, 1994).

Gelombang tsunami yang terjadi akibat deformasi di dasar laut memiliki karakteristik sebagai berikut:

•  Memiliki panjang gelombang sekitar 100-200 km atau lebih.
•  Memiliki perioda 10-60 menit
•  Kecepatan perambatan gelombang bergantung pada kedalaman dasar laut.

dimana : v = kecepatan gelombang ; g = percepatan gravitasi ; h = kedalaman laut

Gempa pembangkit tsunami biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

•  Lokasi episenter terletak di laut.
•  Kedalaman pusat gempa relatif dangkal, kurang dari 70 km.
•  Memiliki magnitudo besar M > 7.0 SR
•  Mekanisme pensesarannya adalah sesar naik (thrusting fault) dan sesar turun (normal fault)

Pontensi Tsunami di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik, antara lain Bagian Barat P. Sumatera, Selatan P. Jawa, Nusa Tenggara, Bagian Utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta Bagian Timur P. Kalimantan

sumber: bmkg.go.id

Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)

Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat serta membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Oleh itu skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain. Oleh karena itu, saat ini penggunaan Skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian.

I MMI

Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang

Generic placeholder image
Generic placeholder image

II MMI

Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

III MMI

Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Generic placeholder image
Generic placeholder image

IV MMI

Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

V MMI

Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

Generic placeholder image
Generic placeholder image

VI MMI

Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII MMI

Tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.

Generic placeholder image
Generic placeholder image

VIII MMI

Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

IX MMI

Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.

Generic placeholder image
Generic placeholder image

X MMI

Bangunan dari kayu yang kuat rusak,rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI

Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

Generic placeholder image
Generic placeholder image

XII MMI

Hancur sama sekali, Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.

Desain Kartun oleh : Eko Wardoyo

Apakah Gempabumi itu ?

Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Parameter Gempabumi

  Waktu terjadinya gempabumi (Origin Time – OT) 
  Lokasi pusat gempabumi (Episenter) 
  Kedalaman pusat gempabumi (Depth) 
  Kekuatan Gempabumi (Magnitudo) 

Karakteristik GempabumiOke

  Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat 
  Lokasi kejadian tertentu
  Akibatnya dapat menimbulkan bencana
  Berpotensi terulang lagi
  Belum dapat diprediksi
  Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi

Mengapa Gempabumi Terjadi ?
Lempeng Tektonik

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonikadalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).

 

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

 

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhisaling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Jalur Gempabumi Dunia

Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu:   Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat.

Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.

Belajar dari pengalaman kejadian gempabumi dan tsunami di Aceh, Pangandaran dan daerah lainnya yang telah mengakibatkan korban ratusan ribu jiwa serta kerugian harta benda yang tidak sedikit, maka sangat diperlukan upaya-upaya mitigasi baik ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi resiko akibat bencana gempabumi dan tsunami.

Mengingat terdapat selang waktu antara terjadinya gempabumi dengan tsunami maka selang waktu tersebut dapat digunakan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dengan membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System / Ina-TEWS).

Akibat Gempabumi

  Getaran atau guncangan tanah (ground shaking)
  Likuifaksi ( liquifaction)
  Longsoran Tanah
  Tsunami
  Bahaya Sekunder (arus pendek,gas bocor yang menyebabkan kebakaran, dll)

Faktor-faktor yang Mengakibatkan Kerusakan Akibat Gempabumi

  Kekuatan gempabumi
  Kedalaman gempabumi
  Jarak hiposentrum gempabumi
  Lama getaran gempabumi
  Kondisi tanah setempat
  Kondisi bangunan

Dampak Gempabumi Terhadap Alam

Dampak Gempabumi Terhadap Struktur Bangunan

Dampak Liquifaksi Terhadap Bangunan

Dampak Sekunder Gempabumi Berupa Kebakaran

Daftar Istilah atau Kata

Daftar Istilah atau Kata

A Advisory : Status waspada dimana ketinggian tsunami diperkirakan kurang dari 0,5 meter.
Amp : Amplitudo, adalah besarnya simpangan fase gelombang yang tercatat, diukur dari puncak atas sampai puncak bawah (peak to peak) dalam mikron.
Astenosfer : Lapisan di bawah litosfer dan di atas mantel atas bumi.
Az : Azimuthal gap, adalah sudut gap antara stasiun stasiun pencatat gempa terhadap epicenter.
B BAKO : Bakorsurtanal, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional adalah lembaga negara yang bertugas untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bidang survey dan pemetaan, dan saat ini berganti nama menjadi BIG (Badan Informasi Geospasial).
BPPT : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, adalah lembaga pemerintah non-departemen yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi.
Buoys : Peralatan yang terapung di laut yang memiliki banyak kegunaan, dimana salah satunya untuk mendeteksi tsunami.
C cPhase : Count Phase, adalah jumlah fase waktu tiba gelombang gempa yang digunakan.
D Data observasi : Data yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Date : Tanggal terjadinya gempabumi.
Deformasi : Perubahan bentuk, posisi, dan dimensi dari suatu benda
Diseminasi : Penyebaran informasi.
Dist : Distance, jarak.percepatan batuan dasar yang timbul akibat adanya gempa.
E E-mail : Jenis telekomunikasi dengan menggunakan surat elektonik (surel).
Epicenter : Pusat gempa di permukaan bumi.
Estimasi waktu tiba : Perkiraan waktu tibagelombang tsunami di pantai.
Event : Peristiwa atau kejadian gempa.
Extreme : Guncangan sangat hebat setara dengan X+ MMI alat pengukur intensitas Potential damage: kerusakan yang dapat ditimbulkan
F Fax : Faksimile, adalah jenis peralatan komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan dokumen dengan menggunakan suatu perangkat yang mampu beroperasi melalui jaringan telepon dengan hasil yang serupa dengan aslinya.
G Gelombang badan : Gelombang seismik yang merambat melalui bagian dalam bumi.
Gempabumi Signifikan : Gempabumi yang dirasakan oleh masyarakat atau kekuatannya ≥ 5.5  SR.
GMT : Greenwich Mean Time, rata-rata waktu surya yang dilihat dari Observatorium Kerajaan di Greenwich, London, Inggris yang terletak di 0 derajat garis bujur.
GPS : Global Positioning System, adalah sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.
GTS : Global Telecommunication System, sistem telekomunikasi global.
H Heavy : Berat.
Hipocenter : Pusat gempa di bawah permukaan bumi.
Hiposentrum : Titik di dalam bumi yang menjadi pusat gempabumi.
I Instrumental intesity : Alat pengukur intensitas gempa.
K Kedalaman : Kedalaman gempa dalam kilometer.
Kerak bumi : Lapisan terluar Bumi yang terbagi menjadi dua kategori, yaitu kerak samudera dan kerak benua.
L Latitude : Koordinat lintang geografi tempat terjadinya gempa ( ° ), Lintang Selatan  ((-) atau (S)) Lintang Utara ( tanpa tanda atau (N)).
Light : Getaran dirasakan namun ringan setara dengan IV MMI alat pengukur intensitas.
Likuifaksi : Perilaku tanah yang berubah seperti liquid (cair) akibat gempa.
Longitude : Koordinat bujur geografi tempat terjadinya gempa ( ° ).
M Major warning : Status awas dimana ketinggian tsunami diperkirakan lebih dari 3 meter.
Mekanisme sumber : Mekanisme gaya atau  stress yang bekerja pada batuan di dalam bumi yang mengakibatkan terjadinya gempa .
Mitigasi : Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
M : Magnitudo.
Mag : Magnitudo, Kekuatan gempa dalam skala richter.
Mb : Magnitudo menggunakan gelombang badan perioda pendek.
mB : Magnitudo menggunakan gelombang badan (broad band) perioda panjang.
ML : Magnitudo menggunakan gelombang lokal dengan komponen horisontal.
MLv : Magnitudo menggunakan gelombang lokal dengan komponen vertikal.
Moda : Bentuk atau jenis telekomunikasi.
Moderate : Getaran dirasakan cukup kuat setara dengan V MMI alat pengukur intensitas.
Moho : Batas antara kerak dan mantel.
Momen seismik : Kuantitas yang digunakan oleh seismolog gempa untuk mengukur   ukuran gempabumi.
Mw : Magnitudo menggunakan moment seismik.
Mw(mB) : Magnitudo menggunakan integrasi ganda moment seismik dan gelombang badan broadband.
N Net : Network, adalah jaringan stasiun pencatat gempabumi.
None : Tidak ada kerusakan.
Not felt : Getaran tidak dirasakan setara dengan I MMI alat pengukur intensitas.
P Peak acc : Peak acceleration, adalah percepatan tanah.
Peak vel. : Peak velocity, kecepatan pergerakan tanah.
Pemutakhiran : Hasil analisa atau pengolahan data terbaru/terkini.
Per : Periode gelombang dalam detik.
Perceived shaking : Getaran/guncangan yang dirasakan.
PGA : Peak Ground Acceleration, adalah percepatan batuan dasar yang timbul akibat adanya gempa.
PGV : Peak Ground Velocity, adalah kecepatan batuan dasar yang timbul akibat adanya gempa.
Q QC : Quality Control.
R Region : Wilayah.
Repository : Tempat penyimpanan, database arsip.
Res : Residual, Selisih antara pembacaan dan perhitungan program.
RMS : Root Mean Square atau kuadrat rata rata, adalah nilai error perhitungan.
RMS-Err : Akar dari rata-rata kesalahan kuadrat dalam detik.
S Sensor sistem : Sistem yang digunakan untuk mendeteksi gempa atau tsunami.
Sesar : Satu bentuk rekahan pada lapisan batuan bumi yg menyebabkan satu blok batuan bergerak relatif terhadap blok yang lain.
Severe : Guncangan dirasakan parah setara dengan VIII MMI alat pengukur intensitas.
Shakemap : Peta yang menggambarkan getaran/guncangan tanah  yang diakibatkan oleh gempa.
Skala Modified Mercalli Instensity (MMI) : Ukuran kekuatan gempabumi berdasarkan kerusakan yang diakibatkan oleh gempa tersebut.
Smaj : Jarak stasiun terjauh dari episenter.
Smin : Jarak stasiun terdekat dari episenter.
Sms : Short Message Service, jenis telekomunikasi dengan isi pesan singkat menggunakan telepon genggam.
SR : Skala Richter, ukuran kekuatan gempabumi yang dihitung besarnya energi yang dilepaskan dari sumber gempa berdasarkan formula Richter di San Fransisco, California, United State.
Stat : Stasiun seismik, adalah stasiun pendeteksi gempabumi.
Strong : Guncangan dirasakan kuat setara dengan VI MMI alat pengukur intensitas
T TG : Tide Gauge, alat yang digunakan untuk mengukur muka air laut.
Time : Waktu terjadinya gempa dalam GMT , WIB (GMT+7), WITA (GMT+8), WIT(GMT+9).
Type Mag : Tipe magnitudo atau jenis jenis magnitudo gempa.
V Vel. : Velocity, adalah kecepatan gelombang seismik.
Very heavy : Sangat berat/parah.
Very light : Sangat ringan.
Very strong : Guncangan dirasakan sangat kuat setara dengan VII MMI alat pengukur intensitas.
Violent : Guncangan hebat setara dengan IX MMI alat pengukur intensitas.
W Warning : Status siaga dimana ketinggian tsunami diperkirakan antara 0,5-3 meter.
Weak : Getaran dirasakan lemah setara dengan II-III MMI alat pengukur intensitas.
WIB : Waktu Indonesia bagian Barat.
WITA : Waktu Indonesia bagian Tengah.
WIT : Waktu Indoneseia bagian Timur.
WRS : Warning Receiver System, adalah sistem penerimaan warning.
WRS client : Penerima jasa layanan wrs.